Senin, 28 Maret 2011

PENGARUH PASAR MURAH TERHADAP PERKEMBANGAN PERUBAHAN HARGA KOMODITI BAHAN POKOK PADA SAAT PERAYAAN HARI RAYA Di KOTA AMBON


Sejak tahun 2004 mejelang hari raya Idul Fitri dan Natal di Kota Ambon, Pemerintah Daerah Maluku bekerjasama dengan beberapa pengusaha lokal melaksanakan Pasar Murah yang dikenal dengan sebutan Bazaar Ramadhan mejelang perayaan Idul Fitri dan Bazaar Natal dan Tahun Baru mejelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Tujuan pelaksanaan Pasar Murah tersebut di atas adalah agar masyarakat  dengan mudah memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah guna merayakan hari raya keagamaannya.
Komoditi-komoditi yang dijual pada Pasar Murah meliputi (1)mie kering instant, (2)Tepung terigu, (3)susu kental manis, (4)telur ayam ras, (5)margarine, (6)minyak goreng dan  (7)gula pasir. Komoditi komoditi tersebut selanjutnya disebut bahan pokok. Bahan pokok tersebut dijual dengan harga yang lebih murah karena ada subsidi dari Pemerintah Daerah Maluku.
Data pada Tabel 1.1 berikut ini adalah data komoditi bahan pokok yang dijual di Pasar Murah dalam rangka hari raya Idul Fitri 1431 H Tahun 2010.
 
Tabel 1.1
Rencana Pengeluaran Subsidi Bahan Pokok Yang Dijual di   Pasar Murah dalam Rangka Hari Raya Idul Fitri 1431 H Tahun 2010
No
Jenis Komoditi
Nilai        Penjualan
(Rp)
Subsidi
Nilai (Rp)
(%)
(1)
(2)
(5)
(4)
(5)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Mie Kering Instant
Tepung Terigu
Susu Kental Manis
Telur Ayam Ras
Margarine/Mentega
Minyak Goreng
Gula Pasir
25.524.000
38.070.000
13.200.000
97.200.000
16.080.000
22.347.500
118.800.000
2.598.920
3.807.000
1.980.000
10.800.000
1.223.000
1.224.200
5.940.000
10
10
15
11
8
6
5
Sumber : Dinas Perindag Propinsi Maluku (data diolah).
Komoditi bahan pokok yang dijual di Pasar Murah di atas, juga merupakan komoditi-komoditi yang harganya dipantau oleh Badan Pusat Staistik (BPS) Propinsi Maluku dan BPS kota Ambon dalam rangka penyusunan dan penghitungan Indeks Harga Konsumen di Kota Ambon guna penghitungan Inflasi Kota Ambon.
Berdasarkan pengalaman BPS bahan pokok di atas  banyak diminta/dibutuhakan konsumen pada kedua hari raya keagamaan diatas. Apabila jumlah permintaannya cukup besar di satu sisi dan pada sisi yang lain  terjadi jumlah penawaran yang terbatas, biasanya terjadi kenaikan harga yang mencolok dari komoditi bahan pokok tersebut.
Data pada Tabel 1.2 s/d Tabel 1.5  berikut ini memuat data perkembangan Persentase Perubahan harga tiap-tiap komoditi kebutuhan pokok, dan laju inflasinya pada bulan perayaan hari raya Idul Fitri dan Natal serta Tahun Baru periode sebelum pelaksanaan Pasar Murah (1998 – 2003) dan periode setelah pelaksanaan Pasar Murah (2004 – 2009).
  
Tabel 1.2
Perkembangan Persentase Perubahan Harga Beberapa Komoditi Kebutuhan Pokok Di Kota Ambon Pada Bulan Perayaan Idul Fitri Periode Sebelum Dilaksanakan Pasar Murah (%)

Jenis Komoditi
Jan 1998
Jan 1999
Jan 2000
Des 2001
Des 2002
Nov 2003
Rata2    Perubahan
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
Mie kering instant
1,85
0,00
2,22
0,00
0,00
0,00
0,68
Tepung terigu
0,00
0,00
0,00
0,00
5,26
0,00
0,88
Susu kental manis
17,51
0,69
-4,42
0,00
0,00
0,00
2,30
Telur ayam ras
0,00
17,61
-24,08
15,30
20,83
17,00
7,78
Margarine
29,55
0,00
0,00
0,00
2,94
0,00
5,41
Minyak goring
9,18
-1,15
-3,64
0,00
0,00
4,00
1,40
Gula pasir
0,00
0,00
0,00
0,00
4,22
0,00
0,70
Laju Inflasi*
4,70
2,34
-7,48
2,24
3,98
2,97
1,46










Sumber : BPS Propinsi Maluku dan Sub Direktorat Statistik Harga  Konsumen BPS RI   (data diolah)
Keterangan : *) Laju Inflasi adalah perubahanan total nilai konsumsi dari seluruh komoditi kebutuhan pokok tersebut pada bulan perayaan hari raya terhadap bulan sebelumnya.
Untuk lengkap kalau masih mau ikuti tulisa ini, download di :
http://www.mediafire.com/?vz8t4dui5rtqh7n

Tujuan Pelaksanaan Pasar Murah dan Dampak ekonomis
Seperti telah disinggung di atas, bahwa tujuan pelaksanaan Pasar Murah adalah agar masyarakat  dengan mudah memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah guna merayakan hari raya keagamaannya. Jadi lebih dititikberatkan pada upaya membantu masyarakat, namun dari sisi ekonomis, kegiatan pelaksaan Pasar Murah ini bisa berdampak pada penekanan gejolak inflasi khususnya bahan pokok yang dijual  di Pasar Murah tersebut. Dikatakan demikian karena yang namanya Pasar Murah sudah pasti barang-barang yang dijual disitu dengan harga yang murah. Dijual dengan harga yang murah karena ada subsidi yang diberikan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Maluku yang berkisar antara 5 s/d 15 %. Dengan demikian barang yang dijual harganya akan berada antara 5 – 15 % dibawah harga pasar. Berdasarkan pengalaman BPS, pada perayaan hari-hari besar keagamaan seperti hari raya Idul Fitri dan Natal serta Tahun Baru, jumlah permintaan komoditi tertentu di kota Ambon akan melonjak. Komoditi-komoditi tertentu dimaksud, termasuk komoditi kebutuhan pokok yang di jual di pasar murah seperti yang terlihat pada tabel 1.1 s/d tabel 1.5. Jika Permintaan melonjak  di satu sisi, dan pada pada sisi yang lain jumlah penawaran terbatas, maka kemungkinan para pedagang di Kota Ambon akan menaikan   harga komoditi tersebut.
Sesuai Teori Permintaan dan Penawaran  maka diharapkan sebagian besar konsumen/pembeli akan memilih Pasar Murah yang dilakukan Pemerintah Daerah Maluku untuk membeli komoditi  tersebut di atas karena dijual dengan harga yang relatif murah.
Dengan demikian dampaknya adalah para pedagang yang menjual komoditi-komoditi  yang sama di Pasar Umum, tidak bisa seenaknya menaikan harga karena takut kehilangan pembeli. Dengan demikian diharapkan tidak akan terjadi lonjakan harga mencolok sehingga tingkat inflasi khususnya ketujuh komoditi kebutuhan pokok di atas, bisa dikendalikan.

Rancangan penelitian
Penelitian ini  dirancang agar bisa dilakukan pengujian hipotesis terhadap perbedaan dua rata-rata akibat ada perlakuan atau pengaruh suatu kejadian tertentu dengan menggunakan t tabel sebagai alat uji hipotesis. Yang dimaksud dengan 2 (dua) rata-rata disini adalah rata-rata perkembangan perubahan harga dan laju inflasi dari ketujuh komoditi bahan pokok tersebut di atas pada periode sebelum pelaksanaan Pasar Murah (1998 – 2003) dan periode setelah pelaksanaan Pasar Murah (2004 – 2009).

Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari :
-       variabel xi1 adalah perubahan harga  tiap-tiap komoditi/komoditi i dan laju inflasi ketujuh komoditi tersebut pada periode sebelum pelaksanaan pasar murah (1998 – 2003), seperti yang terlihat pada Tabel 1.2 dan Tabel 1.4.
-    variabel xi2 adalah perubahan harga  tiap-tiap komoditi/komoditi i dan laju inflasi ketujuh komoditi tersebut pada periode setelah pelaksanaan pasar murah (2004 – 2009), seperti yang terlihat pada Tabel 1.3 dan Tabel 1.5.

Metode Pengumpulan Data.
Data harga masing-masing komoditi kebutuhan pokok dimaksud dikumpulkan dengan cara menginventariser data sekunder dari BPS Propinsi Muluku yang dipakai dalam penghitungan inflasi kota Ambon.
Harga  masing-masing komoditi tersebut di atas meliputi harga bulan perayaan hari raya dan bulan sebelumnya yang terdiri dari :
-       Periode sebelum pelaksanaan pasar murah.
-        Periode setelah pelaksanaan pasar murah.
Data perkembangan laju Inflasi ketujuh komoditi kebutuhan pokok pada periode sebelum pelaksanaan Pasar Murah dan periode setelah pelaksanaan Pasar Murah juga merupakan data sekunder yang bersumber dari Sub Direktorat Harga Konsumen, BPS RI.
Data kuantitatif berupa data rencana pengeluaran subsidi beberapa komoditi pada Pasar Murah dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1431 H Tahun 2010 kemudian diolah seperti terlihat pada Tabel 1.1. Data ini  merupakan data sekunder yang didapat dari  Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Maluku.
Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan adalah uji hipotesis dengan menggunakan statistik parametrik uji t untuk menguji perbedaan rata-rata dua sampel dengan cara penelilitian (Prof  DR Sugiono,2005:119)  seperti dibawah ini  :
Untuk lengkap kalau masih mau ikuti tulisa ini, download di :http://www.mediafire.com/?m9g9m8s2cu7x9fr

Deskripsi Hasil Penelitian.
Variabel yang diteliti berupa perkembangan perubahan harga adalah variabel  yang terdapat pada Tabel 1.1 s/d Tabel 1.5. Dari hasil penelitian terhadap variabel pada Tabel 1.1 s/d Tabel 1.5 tersebut, dan  mengacu pada metode Analisis seperti yang telah diuraikan pada metode analisis di atas, hasilnya secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 dibawah ini :
 
Tabel 4.1
Hasil Pengujian Hipotesa Pelaksanaan Pengaruh Pasar Murah Menjelang Hari Raya Idul Fitri Terhadap Perkembangan Perubahan Harga Kebutuhan Pokok Dan Laju Inflasinya         Dikota Ambon
Uraian

Rata-rata perubahan

Simpangan  Baku
Periode  1 *
Periode  2 **
Periode  1*
Periode  2**
1
2
3
4
5
Mie Kering Instant
0,68
0,25
1,06
0,63
Tepung Terigu
0,88
1,47
2,15
1,88
Susu Kental Manis
2,30
0,62
7,68
1,25
Telur Ayam Ras
7,78
1,49
17,23
4,51
Margarine
5,41
0,56
11,88
1,06
Minyak Goreng
1,40
8,00
4,54
0,48
Gula Pasir.
0,70
4,19
1,72
6,14
Inflasi
1,46
1,48
4,09
1,29





     Lanjutan Tabel. 4.1
Uraian
R
t  tabel
t hitung
Kesimpulan
1
6
7
8
9
Mie Kering Instant
-0,31
2,228
0,760
Terima Ho
Tepung Terigu
-0,38
2,228
-0,431
Terima Ho
Susu Kental Manis
-0,18
2,228
0,515
Terima Ho
Telur Ayam Ras
0,21
2,228
0,912
Terima Ho
Margarine
-0,27
2,228
0,974
Terima Ho
Minyak Goreng
0,55
2,228
0,602
Terima Ho
Gula Pasir.
0,51
2,228
-1,562
Terima Ho
Inflasi
0,52
2,228
-0,015
Terima Ho
   Keterangan :  *) Periode 1 adalah periode sebelum pelaksanaan Pasar Murah
  **) Periode 2 adalah periode setelah pelaksanaan Pasar Murah


Tabel 4.2
Hasil Pengujian Hipotesa Pelaksanaan Pengaruh Pasar Murah Menjelang Hari Raya Natal Dan Tahun Baru Terhadap Perkembangan Perubahan Harga Kebutuhan Pokok Dan Laju Inflasinya Dikota Ambon

Uraian

Rata-rata perubahan

Simpangan  Baku
Periode  1 *
Periode  2 **
Periode  1*
Periode  2**
1
2
3
4
5
Mie Kering Instant
0,74
0,32
1,81
0,69
Tepung Terigu
-0,47
3,14
3,67
3,92
Susu Kental Manis
0,82
0,16
1,26
0,48
Telur Ayam Ras
19,66
2,24
22,19
8,45
Margarine
0,49
0,56
1,20
0,96
Minyak Goreng
-0,70
0,49
3,29
1,47
Gula Pasir.
0,54
1,53
1,85
2,20
Inflasi
0,57
1,00
1,17
1,19






Lanjutan Tabel. 4.2
Uraian
R
t  tabel
t hitung
Kesimpulan
1
6
7
8
9
Mie Kering Instant
-0,22
2,228
0,501
Terima Ho
Tepung Terigu
0,03
2,228
-1,676
Terima Ho
Susu Kental Manis
0,37
2,228
1,363
Terima Ho
Telur Ayam Ras
-0,66
2,228
1,500
Terima Ho
Margarine
-0,28
2,228
-0,094
Terima Ho
Minyak Goreng
-0,02
2,228
-0,802
Terima Ho
Gula Pasir.
-0,26
2,228
-0,754
Terima Ho
Inflasi
-0,27
2,228
-0,56
Terima Ho
   Keterangan :  *) Periode 1 adalah periode sebelum pelaksanaan Pasar Murah
  **) Periode 2 adalah periode setelah pelaksanaan Pasar Murah



 Kesimpulan
Hasil pengujian Hipotesa, yang ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 di atas, maka bisa disimpulkan bahwa secara statistik tidak ada alasan untuk menerima hipotesa berupa dugaan  bahwa pelaksanaan Pasar Murah menjelang hari raya Idul Fitri dan  Natal serta Tahun Baru mempunyai pengaruh terhadap perkembangan perubahan harga ketujuh komoditi kebutuhan pokok dimaksud dan laju inflasinya di kota Ambon, khususnya pada bulan-bulan peksanaan kedua hari raya tersebut. Hal ini diduga disebabkan karena  beberapa hal yang perlu diteliti lebih lanjut antara lain:
- Jumlah subsidi yang kecil menyebabkan (1)  perbedaan harga antara pasar murah dan pasar umum tidak signifiken, yang mengakibatkan kebanyakan pembeli/konsumen tidak menjadikan Pasar Murah sebagai sasaran utama lokasi belanjanya (2) volume barang yang dapat disediakan sedikit sehingga hanya sebagian kecil konsumen/pembeli saja yang bisa mendapat kesempatan berbelanja di Pasar Murah, sedangkan sebagian besar konsumen terpaksa harus memilih pasar umum sebagai tempat belanja mereka.
- Jarak waktu yang pendek antara waktu dimulainya pelaksanaan Pasar Murah dengan hari H, sehingga sebagian besar konsumen/pembeli telah memilh pasar umum sebagai tempat belanja mereka sebelum dilaksanakannya Pasar Murah mengakibatkan para pedagang bisa secara spekulatif menaikan harga pada selang waktu tersebut.
- Lokasi pelaksanaan Pasar Murah yang dirasa tidak strategis, karena selisih harga yang dijual antara Pasar Murah dengan Pasar Umum tidak sebanding dengan biaya transport yang harus dikeluarkan oleh pembeli/konsumen jika membeli di Pasar Murah, kemudian ingin membeli lagi barang lain yang tidak dijual di Pasar Murah, yang terpaksa harus mengeluaran tambahan biaya transportnya lagi.
.
Saran
Mengingat dari sisi teori ekonomi, Pasar Murah yang dilaksanakan di kota Ambon setiap tahun menjelang hari raya Idul Fitri dan Natal serta Tahun Baru bisa berdampak untuk meredam gejolak kenaikan harga yang mencolok di Kota Ambon, terutama saat-saat perayaan hari raya keagamaan seperti tersebut di atas, maka penulis disarankan dua hal yakni;
1.    Jika Kondisi Keuangan Pemerintah Daerah Maluku masih memungkinkan kiranya nilai subsidi untuk komoditi-komoditi kebutuhan pokok tersebut bisa dinaikkan/ditambahkan menjadi minimal 20 %, sehingga diharapkan dari sisi harga dan persediaan bisa menarik dan memenuhi kebutuhan sebagaian besar pembeli/konsumen. Subsidi disarankan tidak saja dari Pemerintah daerah Maluku tetapi juga kiranya bisa diberikan oleh Pemerintah Kota Ambon serta kalangan perbankan dan BUMN yang ada di kota Ambon.
2.    Ada peneliti lain yang bisa melanjutkan penelitian ini, berupa analisis pandangan masyarakat di kota Ambon yang terkait dengan harga yang terjadi, volume persediaan dan lokasi dari Pasar Murah itu sendiri yang selama ini dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Maluku.
 
DAFTAR PUSTAKA


Badan Pusat Statistik. 1995, Statistik dalam 50 tahun Indonesia Merdeka, Penerbit Biro Pusat  Statistik, Jakarta
Badan Pusat Statistik. 2005, Metode pengukuran inflasi di Indonesia, Penerbit Badan Pusat Statistik, Jakarta
Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku. 2008, Inflasi Kota Ambon 2007, Penerbit Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku, Ambon
Badan Pusat Statistik, 2008, Pedoman Praktis Penghitungan PDRB Kabupaten/Kota
Penerbit Badan Pusat Statistik, Jakarta
Badan Pusat Statistik, 2009, Pedoman Survei Statistik Harga Konsumen Tahun 2009
Penerbit Badan Pusat Statistik, Jakarta
Sugiyono, 2005, Statistika untuk penelitian,
Penerbit CV Alvabeta, Bandung








Tidak ada komentar: